Kala itu sore yang terbalut mendung, daun-daun pohon oak berguguran dari rantingnya, gerimis kecil dan desiran angin seolah memberikan irama dalam langkah tergesa penuh rasa takjub menyaksikan keindahan bangunan-bangunan menara tinggi nan klasik yang terukir dan tertata rapi  menyimpan kenangan sejarah peradaban. Sesaat langkah terhenti diantara bangunan gereja tua dan cafe branding dunia sembari menyaksikan lalu lalang para pelajar yang hendak pulang sekolah menyebrangi jalan tersebut, pertanda langkah kuarahkan lurus ke kiri hingga kusebrangi jalan yang berpangkal sebuah klinik dengan pagar dinding berwarna merah, tak jauh di ujung jalan itulah terdapat salah satu rumah dari ratusan rumah yang berderet, rumah mungil berdinding cream berlabel jalan Dunluce Avenue,  tempat di mana aku dan 3 mahasiswa Indonesia lainnya akan bermukim selama menjadi penuntut ilmu di Queen’s University Belfast, United Kingdom bahkan tempat dimana akan menjadi sejarah perjalanan hidupku. Sepintas tergambar perjalanan yang tak begitu semrawut, pun tak perlu ku arahkan navigasi map di smartphone utk mengetahui arah jalan pulang kala hari pertama saya pulang dari kampus menuju akomodasi.

Seakan masih segar di ingatan, banyak hal baru yang diperoleh selama melalui proses awal sebagai seorang mahasiswa master. Dari pertama kedatangan di awal bulan September lalu, saya seolah menemukan keluarga baru, iya saudara-saudara baru yang meskipun tak terlahir dari rahim yang sama, namun kami terlahir di tanah air yang sama, Indonesia. Mereka adalah para pelajar Indonesia juga yang lebih dahulu menginjakkan kaki di kota ini. Begitu kuat membekas sambutan-sambutan hangat yang diberikan, arahan-arahan yang mencerahkan dan bahkan kesamaan visi untuk memajukan bangsa Indonesia di masa depan. Hal tersebut  sukses membuat saya merasa tak terasing menjadi orang asing di kota ini. Dalam relung hati yang paling dalam saya berharap, semoga kebersamaan ini tak hanya terwujud dalam balutan masakan khas Indonesia yang disajikan saat acara-acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) saja, atau keceriaan dalam canda tawa saat jalan bersama saja, namun berlanjut melekat dalam ikatan kerjasama para pemuda dari berbagai penjuru Indonesia dalam pengabdian membangun Indonesia kelak.

Tepat di bulan November ini, terhitung ganjil tiga bulan keberadaan resmi saya sebagai penduduk sementara Northern Ireland. Tak terbayang sebelumnya saat masih di tanah air dapat merasakan suhu sampai 1 derajat celcius di penghujung musim gugur ini, pun aku tak terbayangkan namun penuh kesiagaan akan beradaptasi lagi dengan suhu minus atau di bawah nol derajat saat winter mendatang. Tentunya banyak hal menarik, berkesan, konyol, bahkan hal-hal yang memaksaku untuk berjuang keras dan merenung lebih panjang selama tiga bulan berlalu ini.

Masih lekat di ingatan saat hari pertama di dalam kelas, kutatapi wajah-wajah asing yang mengisyaratkan kebanyakan mereka adalah penduduk lokal, dua di antaranya nampak seperti orang China dan sepintas nampak usia rata-rata mereka sebaya denganku. Sesaat say hello sambil tersenyum ketika beberapa di antara mereka menorehkan wajahnya kepadaku seakan hubungan kita telah akrab dan menyadarkan mereka akan menjadi teman kelasku selama studi di kampus ini. Saat itu adalah orientasi modul di mana convenor atau ketua program studi istilah Indonesia memberikan pengenalan modul-modul yang akan di pelajari semester ini. Iya convenor-ku itu adalah sosok perempuan paruh baya namun tampak begitu enerjik saat memberikan penjelasan yang bagiku mempunyai gaya bicara yang sangat jelas bagi telinga asing seperti saya. Ku nikmati penjelasan yang disampaikannya kalimat demi kalimat, hingga beberapa kali sang convenor mendekati tempat dudukku yang saat itu juga posisi saya di jajaran bangku paling depan di dalam ruangan bercorak klasik tersebut. Ia sangat mengerti keberadaanku dan beberapa orang lainnya sebagai international students, itu terbukti dengan penjelasannya yang tak begitu cepat dan beberapa kali memberikan penekanan kepada mayoritas local students agar bicara pelan jika hendak meyampaikan pendapat atau saat melakukan percakapan di dalam kelas. Tentunya hal tersebut bertujuan untuk memudahkan beberapa orang di antara kami memahami point-point yang mereka sampaikan.

Tak lama setelah penjelasannya usai, panggil saja Judith nama sang convenor, dilanjutkan dengan melemparkan isssue terkait Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi fokus di salah satu modul kuliah untuk didiskusikan hari itu juga. Judith menghendaki agar diskusi tersebut dimulai dengan memperkenalkan diri meliputi negara asal dan background keilmuan sebelumnya hingga interest yang hendak digeluti di masa depan. Iya perkiraanku benar, setelah beberapa orang berlalu memperkenalkan diri yang menegaskan jika mereka adalah orang lokal atau penduduk UK asli, entahlah nama kotanya apa, karena aku ga begitu memperhatikan itu. Hingga berlalu ke dua orang Chinese yang duduk berdekatan itu memperkenalkan diri mereka. Indera pendengaranku seolah terbuka lebar saat menangkap kata demi kata yang mereka sampaikan karena bahasa Inggris yang terucap dari lidah mereka solah terbalut kental dengan logat  chinese-nya.

Namun ada beberapa orang di antara mereka yang seolah tak mempan jika ku buka lebar indera pendengaranku, aku tak mengerti sama sekali walaupun beberapa kata terucap jelas. Layaknya orang yang berkumur, mereka bicara tak jelas dan begitu cepat. Dalam hati seolah mengeluh dengan perasaan memojokkan diri jika kemampuan pendengaran bahasa inggrisku masih kurang mumpuni untuk berada di kelas itu. Sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan pembicaraan ala-ala British accent yang sebelumnya kupelajari. Iya, ternyata memang beberapa diantara mereka ngomong dengan accent Irish-nya yang begitu kuat, sehingga tak aneh jika arahan seorang Jude untuk berbicara pelan tadi tertuju kepada mereka.

Tiba giliranku untuk memperkenalkan diri, dengan bahasa Inggris yang lantang, dengan penuh kebanggaan saya mengatakan “I am from Indonesia”,  semua mata di dalam kelas itu tertuju padaku, dalam hati bergumam semoga mereka paham dengan perkataanku. Ada beberapa orang yang seolah spontan mengatakan “that’s great”, “it’s beautiful” saat mengetahui saya dari Indonesia. Begitupun dengan Judith, sang convenor itu menginterupsi dengan memberikan pernyataan dan pertanyaan. “I have  visited Bali a couple of years ago”, “it was amazing experience”, lantas ia melanjutkan dengan nada pertanyaan, “can you dance ?” spontan saya menjawab “I have no talent in dancing”. Judith melanjutkan perkataanya sambil tersenyum I learnt Balet Dance. Rasanya waktu itu aku ingin ngomong lebih panjang dengan Judith namun beliau melanjutkan dengan memberikan kesempatan beberapa orang yang tersisa untuk memperkenalkan diri.

Sekitar 45 menit waktu tersisa setelah sesi pengenalan diri tersebut, setelahnya dilanjutkan dengan diskusi tentang beberapa point dari SDGs. Ada salah satu pernyataan dari seorang teman kelas perempuan yang duduk di pojokan kelas itu yang cukup memikat perhatian saya. Dengan nada yang seolah memojokkan bahwa negara-negara berkembang merupakan penyumbang polusi terbesar di planet ini, hingga dengan pernyataan yang menegaskan kalau di negara-negara berkembang terdapat angka kemiskinan, gizi buruk, hingga insecurity ketidakamanan tertinggi di Dunia. Saya sungguh sedikit tersinggung dengan beberapa pernyataan teman tersebut yang memang erat kaitannya dengan 17 Sustainable Development Goals yang sedang didiskusikan.

Memang tak dapat dipungkiri kalau mengacu dengan beberapa data dunia, pernyataan-pernyataan teman kelas tersebut benar. Dalam hati sebenarnya ingin menyanggah jika hal tersebut tak elok jika dilihat dari satu sisi saja yang tentunya akan membuat pandangan-pandangan terhadap negara berkembang, termasuk di antaranya adalah negaraku sendiri Indonesia. Lihat saja data yang menyebutkan bahwa hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia, data dari World Bank yang menempatkan posisi Indonesia sebagai the world’s most biologically diverse country. Pun kalau banyak terjadi kekacauan di Dunia seperti perang di beberapa negara timur tengah, setidaknya lihatlah negara yang menjadi pemasok terbesar senjatanya. Hingga bercerminlah pada sejarah, negara-negara mana saja yang telah melakukan kolonialisasi pada waktu itu, memeras hasil kekayaan alam negara-negara jajahan.

Hari pertama di jurusanku, Leadership for Sustainable Develeopment, memberikan suasana yang cukup menantang dan cukup tergambar jika di jurusan ini saya akan lebih fokus mempelajari management dan isu-isu lingkungan. Tentunya sedikit kaget, karena disiplin kelimuan sebelumnya sungguh jauh berbeda. Kelas hari pertamapun ditutup dengan menikmati lunch yang disediakan oleh pihak kampus waktu itu. Ku tuangkan kopi hitam dan sedikit campuran susu putih di cangkir mungil berwarna putih, aroma kopi itu sungguh menggugah selera. Tak sedikit beberapa orang dari teman kelas tadi mendekati dan mengajakku bercakap-cakap ringan. Bahkan beberapa di antaranya tidak tahu banyak tentang Indonesia.

Iya, mereka hanya tau Bali dan Jakarta, bahkan beberapa dari mereka berpikir Indonesia merupakan daerah bagian dari Bali. Tak kupingkiri, mereka lebih mengenal negara-negara tetangga seperti Singapur, Malaysia dan  Thailand. Sejenak ku hela nafas pendek dan kulanjutkan dengan menjelaskan “Indonesia is one of the biggest country in the world after USA, an archipelago country consists of more than 17 thousand islands, two of them are Java and Bali”. Saya lanjutkan dengan menyarankan, “if you wanna know Indonesia more, I don’t suggest you just visiting Bali or Jakarta only, but you can explore the other parts of Indonesia such as Lombok where the beautiful beaches and the highest mountain attract many visitors  around the world. Furthermore, you can  visit Raja Ampat in Papua and Bunaken in Sulawesi which are the best palce to diving”. Hingga saya promosikan bagaimana luasnya pulau Sumatera dan Kalimantan yang merupakan pulau-pulau dengan hutan terluas dan keunikan biodiversity-nya. Mereka seolah asyik mendengarkan penjelasanku yang kutunnjukkan rasa antusias bercampur  bahasa Inggris yang belepotan.

Hari berganti hari, kujalani dengan ikhlas dan penuh semangat proses perkuliahanku di unversitas yang bertajuk kampus ratu ini. Setidaknya, 3 hari dalam seminggu adalah jadwal rutinku di kampus, itu kuhabiskan biasanya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Jadwal yang menurutku padat. Ada beberapa kuliah yang menuntutku harus meyiapkan kopi panas agar bisa dminum dalam kelas ketika penjelasan profesor yang mengampu mata kuliah tersebut berlangsung. Setidaknya kopi tersebut bisa membuatku terjaga dengan fokus memerhatikan penjelasan yang menurutku berat dan panjang. Bukan dinamakan mahasiswa master jika tak bergulat dengan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini harus ku perhatikan, karena sebagian besar nilai perkuliahan untuk mendapatkan gelar Master of Science haru lulus dalam penilaian tugas-tugas tersebut.

Saya sempat merasa drop di awal-awal perkuliahan dengan tuntutan tugas dan interaksi dengan teman-teman kelas yang susah dimengerti, namun doaku seolah-olah terjwab agar senantiasa diberikan kemudahan menjalani perkuliahan ini, satu demi satu kemudahan itu Allah kirimkan dengan bantuan teman kelas yang  cukup memperhatikan dan memberikan banyak masukan tentang apa yang harus kulakukan dengan tugus-tugasku, bahkan ia bersedia menjadi ­proof reader dari essay-essay yang ku tulis. Hingga beberapa kali kami meluangkan waktu bersama untuk sekedar minum-minum di caffe.

Sempat saya merasa konyol, beberapa kali teman-teman kelasku yang  ber-accent Irish  ngomong denganku panjang lebar, namun saya hanya merespon “oh yes” hingga beberapa expresi filler words terucap layaknya saya mengerti dengan percakapan mereka. Hingga moment dimana saya harus memesan minuman-minuman bersoda yang tak asing di Indonesia atau menjadi seorang vegetarian ketika diajak nongkrong di caffe. Mereka menayakan seolah penuh penasaran, mengapa saya tidak mencoba minuman-minuman beralkohol seperti yang mereka minum atau makan daging. Namun, dengan penuh maaf saya merespon tidak minum alkohol dan daging. Mereka sangat menghargai dan saya sangat senang. Walaupun sebenernya saya sangat suka makan daging di rumah. He…

Menjalankan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi tugas kuliah semata rasanya tak sah. Di kampus tempatku belajar ini banyak menyediakan kesempatan untuk mengikuti workshop, seminar hingga kegiatan-kegiatan extrakurikuler lainnya. Saya sangat sadar sebagai seorang penerima beasiswa yang mempunyai waktu studi hanya satu tahun saja. Menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk menghabisakan waktu yang satu tahun ini dengan menggali pengalaman-pengalaman yang sekiranya bermanfaat di masa depan. Kuikuti workshop academic writing, rangkaian seminar biology yang terkait dengan jurusanku hingga saya mengikuti beberapa seleksi kegiatan yang saya bisa manfaatkan untuk menggali skil kepemimpinan dan menambah koneksi internasional.

Dua dari bebagai kegiatan yang tersedia untuk diikuti seleksinya adalah Inspiring Leader dan International Student Ambassador. Saya sangat bersyukur bisa lolos dalam seleksi 2 kegiatan ini yang baru diadakan di penghujung autum ini. Satu kesempatan di bulan  November ini juga saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi delegasi dari jurusanku bersama 7 orang lainnya untuk mengiuti confrence dan debat yang diadakan di Europian Parliement di Brussels, Belgia. Kegiatan yang bertema “Protecting our planet” sayangnya tak bisa kuikuti karena terkendala visa issue yang setidaknya harus ku persiapkan 2 blan sebelumnya.

Menggali pengalaman dan ilmu dari semacam kegiatan – kegiatan tersebut, tentunya saya semakin mempunyai wadah untuk berbicara banyak tentang Indonesia, membangun relasi dengan orang-orang dari berbagai backgrounds dan nengara. Saya sangat percaya dan bukan hal yang tak mungkin jika di masa depan semoga saya bisa berkontribusi dari ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di kampus Queen’s University Belfast ini.

Queen’s University Belfast

Belfast, Northern Ireland

United Kingdom, November 2017.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *